Jeda

Belakangan ini saya banyak menonton kembali film-film keluaran Studio Ghibli. Ada satu hal konsisten yang saya temukan di setiap film-film karya Hayao Miyazaki tersebut, yaitu,  adanya adegan-adegan tenang seolah tidak ada yang “terjadi”, seperti riak air di pinggiran kolam, angin yang berhembus di rerumputan, keheningan pada saat Setsuko meninggal perlahan akibat malnutrisi sehingga memaksa kita yang menonton untuk menghadapi kehancuran emosi dalam ketidakberdayaan dan ketidakbersalahan Setsuko (pada film Grave of the Fireflies).

Adegan-adegan ini terlihat hanya seperti pengisi kekosongan dari momen-momen besar yang ada di film-film tersebut. Tetapi nampaknya momen-momen tersebut lah yang membuat film lebih hidup dan masuk ke dalam diri kita. Hayao Miyazaki memaksa kita untuk membuka ruang untuk bernapas dan membuat kita memperhatikan detail tersebut.

Setelah saya cari tahu lebih lanjut, ternyata beliau dengan kesadaran penuh melakukan hal tersebut di setiap filmnya, dan hal tersebut sejalan dengan konsep yang ada pada kultur Jepang yaitu, Ma (間), adalah ruang di antara, jeda atau kekosongan yang justru memiliki makna memberi bentuk dan keseimbangan pada sesuatu di sekitarnya, baik dalam seni, ruang, hubungan maupun kehidupan itu sendiri.

Hal ini sering berlalu setiap harinya, seperti pada saat menunggu kereta atau bus, saat perjalanan sendirian dari rumah ke kantor atau sebaliknya, momen terduduk diam di kafe sambil memikirkan keputusan-keputusan hidup, dll. Dari sini saya tersadar bahwa dalam hidup, jeda itu sama pentingnya dengan yang hal-hal yang kita sebut dengan aktivitas seperti bekerja, makan, bersanda gurau dengan teman-teman, dll. Karena ruang-ruang di antara tersebut lah di mana pikiran kita berkelana liar dan bermain. Ide-ide kadang datang pada saat itu, ketika kita sudah cukup bosan untuk sadar bahwa kita memiliki pikiran.

Namun ruang-ruang tersebut nampaknya perlahan mulai menghilang, di setiap jeda, dengan mudahnya terisi dengan layar ponsel yang menyala. Di lampu merah, di lift, di antrean, bahkan di sela-sela menunggu halaman web terbuka, jari kita otomatis meraih ponsel sebelum kita sempat menyadari adanya keheningan.

Dengan hilang nya momen-momen tersebut, bisa jadi, kita kehilangan momen Ma. Kita tidak lagi membiarkan keheningan berbicara dengan kita. Kita tidak lagi membiarkan kebosanan berkelana dan berimajinasi. Kita tidak lagi memiliki percakapan dengan diri sendiri. Dan yang lebih sedihnya, kita bahkan tidak sadar apa yang hilang, karena kebiasaan menatap layar ponsel sudah tidak ada bedanya dengan bernafas.

Saya yakin kita semua bisa mengembalikan momen Ma tersebut, sesimpel berhenti mengisi kekosongan tersebut dengan kebisingan. Mulailah dari hal yang sudah pasti kita lakukan setiap hari seperti makan, duduklah dan benar-benar perhatikan bentuk dan tekstur makanan yang kamu kunyah. Lihat keluar jendela kereta atau bus tanpa cek gmaps dan menghitung mundur sampai tujuan. Tataplah kekosongan itu sampai ia tampak seperti sesuatu.

Karena hidup bukan hanya hal-hal yang terjadi, tetapi juga tentang jeda di antaranya. Dan jika kita belajar memegang kendali jeda tersebut, kamu akan merasakan bahwa waktu jeda tersebut adalah bagian sah dari kehidupan bukan sebuah kekosongan yang pasif, tempat di mana kita belajar mendengarkan diri sendiri dan secara sadar menyadari keberadaan diri ini.

Coba deh inget-inget lagi, momen jeda apa yang kita rindukan sebelum ponsel menguasai ini semua?

Nongkrong di teras sore-sore sambil ngeliatin awan? Menatap keluar jendela dari bus/kereta? Menunggu jemputan datang? Ngeliatin semut lagi baris berbaris di kebun? Coba cerita

Leave a comment